Sabtu, 20 Februari 2016

Rumah Batu Olak Kemang







Rumah Batu Olak Kemang terletak di kelurahan Olak Kemang. Kecamatan danau teluk Kota Jambi, bangunan ini merupakan kediaman Said Idrus bin Hasan Al-Djufri yang bergelar Pangeran Wirokusumo. Dimana beliau merupakan keturunan arab yang mendapat kedudukan penting di kesultanan Jambi. Disisi lain beberapa penuturan warga sekitar atau masyarakat Jambi, Wirokusumo juga besan dari Sultan Thaha Syaifuddin Jambi (Sultan terakhir kerajaan Jambi). Pangeran Wirokusumo wafat pada tahun 1901 dan rumah tersebut dihuni keturunannya. Hingga saat ini keturunan Pangeran Wirokusumo tinggal disebelah Rumah Batu Olak Kemang karena demi menjaga keaslian peniggalan Pangeran Wirokusumo.
Keunikan Rumah Batu Olak Kemang terdiri dari dua lantai mempunya arsitektur perpaduan Lokal, Cina dan Eropa. Unsur Lokal berupa rumah panggung, pengaruh Cina pada bentuk atap, gapura dan ornamen-ornamen berbentuk naga, awan, bunga, dan arca singa. Unsur Eropa terlihat dari tiang pangguung dari bahan bata dan semen berbentuk pilar menyangga bangunan di antasnya. Lantai bawah dilapisi ubin terkota dan pada lantai kedua berpapan kayu. Dua lantai dihubungkan dengan tangga semen layaknya tangga rumah bertingkat yang banyak dipakai bangunan indis.





Makam Pangeran Wirokusumo terletak tidak jauh dari dari tempat tinggalnya Rumah Batu Olak Kemang, berada di lingkungan kompleks Masjid Al-Ikhsaniyah. Pada masa lalu kedua bangunan tempat tinggal dan masjid merupakan satu kompleks, namun pada saat ini sudah dipenuhi tempat tinggal penduduk dan terdapat sekolah pesantren Ass’ad. Keunikan makam Pangeran Wirokusumo yaitu jirat dan nisannya terbuat dari batu yang didominasi ukiran hiasan bunga teratai.

Referensi
Radhiana, M. (2007). Peninggalan peradaban jambi situs dan benda cagar budaya. Jambi: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Privinsi Jambi.
Terimakasih telah berkenan untuk membaca artikel ini. Salam persahabatan (Facebook: Adang Ridwan Mulyana. BB: 5CCBDA42

1 komentar:

  1. Dengan banyaknya sejarah terkuak hari ini tentang orang-orang berketuhanan Arab dizaman dahulu mendapatkan Eksklusifitas dari Belanda & menjadi alat Belanda dalam hal Monopoli perdagangan & manipulator berkedok agama untuk melemahkan perjuangan rakyat, bukankah peninggalan ini 'sedikit' mencurigakan? Terlebih lagi rumah ini adalah rumah batu pertama di Kota Seberang & hadiah dari Pemerintah Belanda waktu itu.. sampai hari ini Kesultanan Jambi saja tidak punya peninggalan berupa bangunan permanen karena 90% bangunan kesultanan terbuat dari Kayu. Lalu bagaimana bisa Tokoh ini mendapatkan hadiah berupa bangunan permanen dari pemerintah Belanda kalau dia termasuk orang yang melakukan perlawanan? Bernasib terbalik dengan Sultan Thaha yg sampai akhir hayatnya saja dikejar2 oleh Belanda sampai harus terbunuh di usia 88 tahun.

    BalasHapus