Rumah
Batu Olak Kemang terletak di kelurahan Olak Kemang. Kecamatan danau teluk Kota
Jambi, bangunan ini merupakan kediaman Said Idrus bin Hasan Al-Djufri yang
bergelar Pangeran Wirokusumo. Dimana beliau merupakan keturunan arab yang
mendapat kedudukan penting di kesultanan Jambi. Disisi lain beberapa penuturan
warga sekitar atau masyarakat Jambi, Wirokusumo juga besan dari Sultan Thaha
Syaifuddin Jambi (Sultan terakhir kerajaan Jambi). Pangeran Wirokusumo wafat
pada tahun 1901 dan rumah tersebut dihuni keturunannya. Hingga saat ini
keturunan Pangeran Wirokusumo tinggal disebelah Rumah Batu Olak Kemang karena demi
menjaga keaslian peniggalan Pangeran Wirokusumo.
Keunikan
Rumah Batu Olak Kemang terdiri dari dua lantai mempunya arsitektur perpaduan Lokal,
Cina dan Eropa. Unsur Lokal berupa rumah panggung, pengaruh Cina pada bentuk
atap, gapura dan ornamen-ornamen berbentuk naga, awan, bunga, dan arca singa. Unsur
Eropa terlihat dari tiang pangguung dari bahan bata dan semen berbentuk pilar
menyangga bangunan di antasnya. Lantai bawah dilapisi ubin terkota dan pada
lantai kedua berpapan kayu. Dua lantai dihubungkan dengan tangga semen layaknya
tangga rumah bertingkat yang banyak dipakai bangunan indis.
Makam
Pangeran Wirokusumo terletak tidak jauh dari dari tempat tinggalnya Rumah Batu
Olak Kemang, berada di lingkungan kompleks Masjid Al-Ikhsaniyah. Pada masa lalu
kedua bangunan tempat tinggal dan masjid merupakan satu kompleks, namun pada
saat ini sudah dipenuhi tempat tinggal penduduk dan terdapat sekolah pesantren
Ass’ad. Keunikan makam Pangeran Wirokusumo yaitu jirat dan nisannya terbuat
dari batu yang didominasi ukiran hiasan bunga teratai.
Referensi
Radhiana,
M. (2007). Peninggalan peradaban jambi
situs dan benda cagar budaya. Jambi: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Privinsi Jambi.
Terimakasih
telah berkenan untuk membaca artikel ini. Salam persahabatan (Facebook: Adang
Ridwan Mulyana. BB: 5CCBDA42









Dengan banyaknya sejarah terkuak hari ini tentang orang-orang berketuhanan Arab dizaman dahulu mendapatkan Eksklusifitas dari Belanda & menjadi alat Belanda dalam hal Monopoli perdagangan & manipulator berkedok agama untuk melemahkan perjuangan rakyat, bukankah peninggalan ini 'sedikit' mencurigakan? Terlebih lagi rumah ini adalah rumah batu pertama di Kota Seberang & hadiah dari Pemerintah Belanda waktu itu.. sampai hari ini Kesultanan Jambi saja tidak punya peninggalan berupa bangunan permanen karena 90% bangunan kesultanan terbuat dari Kayu. Lalu bagaimana bisa Tokoh ini mendapatkan hadiah berupa bangunan permanen dari pemerintah Belanda kalau dia termasuk orang yang melakukan perlawanan? Bernasib terbalik dengan Sultan Thaha yg sampai akhir hayatnya saja dikejar2 oleh Belanda sampai harus terbunuh di usia 88 tahun.
BalasHapus